Wednesday, July 20, 2011

Dua Pasang Orang Tua





Seperti hari sebelumnya, hari ini aku pergi ke tempat itu lagi, taman disamping rumahku setelah taruh tas di atas tempat tidur, tanpa ganti baju, aku tidur diatas rumput Inggris yang tumbuh subur dan terasa senyaman ranjang ku sambil usil melempar kerikil. Kupandang langit, imajinasiku berjalan lagi setelah kemarin kulihat awan bertuliskan Allah dan berbentuk wajah sahabatku, hari ini kuharap aku melihat hal unik lain. Tak terasa bayangan itu muncul lagi, wajah orang tuaku, membayangkan mereka terlalu sulit bagiku. Terutama ibuku yang mungkin sekarang melihatku dari tempat yang sangat jauh.
 “Ibumu sekarang jadi bintang yang paling terang.”, setidaknya itulah kata-kata penghibur dari sahabatku,Tiara.
 Kuperhatikan terus langit itu, betapa bahagianya aku saat memandang wajah awan seperti ibuku. Ehm, aku merasa itu sangat jelas, mungkin saja itu hanya halusinasi tapi halusinasi itu membuatku terlalu bahagia.  Aku merasakan ada sesuatu yang dingin di pipiku. Oh, tak terasa itu kelenjar air mataku yang bekerja lagi.


Ada satu hal yang begitu menarik bagiku, satu awan yang berbentuk lingkaran yang didalamnya ada lingkaran bagai poros yang semakin membesar dan membesar. Aku merasa masuk kedalamnya, dalam, dan semakin dalam. Rumput yang tumbuh subur yang sebelumnya kugenggam erat makin lama makin tak terasa lagi, sampai aku tiba di suatu tempat yang tak kukenal sebelumnya, rumah yang terlalu asing bagiku. Kuperhatikan sekelilingku, ada satu foto yang kurasa begitu menarik, kuperhatikan wajah-wajah dalam foto itu, satu wajah yang begitu cantik menggugah satu pertanyaan dalam hatiku.
“ Rasanya aku kenal gadis ini,” kuraba hidung dan pipi ku
“Wajahnya mirip denganku. Ehm, jangan-jangan..”, kuurungkan niat untuk menebak gadis itu, takut kecewa nantinya.
Tiba tiba kudengar langkah dari sisi ruangan lain, suara seorang perempuan dan laki-laki yang tengah bercanda sambil menyantap kue. Dua orang yang kurasa serasi untuk jadi pasangan dan nampaknya mereka memanglah pasangan suami istri. Saat kulihat perut sang wanita yang besar sepertinya ia hamil tua dan ternyata ialah gadis dalam foto tadi. Aku berjalan mendekat lalu kuucapkan salam, tak kudengar jawaban satupun dari mereka, aku mencoba menepuk pundak si lelaki.
“Aneh, tanganku menembus tubuhnya”,  kucoba memangil mereka lagi tapi suaraku bagai angin yang sepintas lalu.
“Aneh, dimana aku sebenarnya?”, hanya kalimat itu yang terbersit dalam benakku. Jeritan si wanita tiba-tiba mengacaukan suasana kegembiraan mereka. Perutnya seperti berkontraksi. Kuikuti perginya mereka, hingga tiba di suatu rumah sakit bersalin, ternyata memang saatnya ia melahirkan. Beberapa jam sang suami menunggu, kegelisahan tampak jelas diraut mukanya. Dokter pun keluar, dan kulihat ekspresi pria itu sekejap berubah bagai rasa syukur yang begitu besar. Kuikuti dia masuk keruangan tempat istri dan putrinya yang masih suci.
“Ehm, lucu”, ucapku melihat bayi itu..
Keesokan harinya banyak orang berkunjung, tak lupa buah, kue dan oleh-oleh lainnya dibawanya. Mereka semua terlihat begitu dekat walaupun jumlah mereka tak membuat kamar itu sempit. Lalu mereka berfoto dengan senyuman yang membahagiakan orang yang memandang. Kulihat salah satu foto itu, foto bayi dan kedua orang tua nya.
“Ehm kelurga baru yang indah. Andai itu aku”, gumamku tanpa sadar.
Aku yang anak tunggal dan sekaligus anak angkat dari keluarga yang membesarkanku sekarang, terkadang merindukan orang tua kandungku. Ditambah lagi bila orang tua angkatku memarahiku habis-habisan karena mendapat nilai ulangan dibawah SKM. Yang membuat makin kesal kalau orang tuaku mnyangkut pautkan nilai yang gak bagus itu dengan seringnya aku pergi dengan temanku, padahal pergiku pun karena hal yang penting seperti belajar kelompok. Teringat kemarahan mereka membuatku kadang berprasangka kalau mereka tak begitu menyayangiku karena aku anak angkat yang mereka adopsi dari panti asuhan. Walaupun aku lebih sering berfikir bahwa orang tua kandungku yang menelantarkanku ke panti asuhan karena tak menginginkan kehadiranku di dunia.
Kembali ke keluarga kecil yang bahagia. Keluarga itu lalu pulang kerumah mereka. Entah mengapa aku terus membuntuti mereka. Saat tiba di perempatan jalan dekat rumah, tiba-tiba sebuah mobil melintas cepat tanpa memperhatikan kendaraan lain. Kontan saja sang suami banting setir, sayangnya hal itu terjadi begitu cepat, hingga mobil tertabrak begitu keras. Mobil terbalik dan entah bagaimana keadaan penumpangnya. Jika mereka hidup mungkin bisa disebut suatu keajaiban Tuhan. Satu hal yang membuatku begitu terkesan, sang ibu mendekap rapat putrinya bagai tak mau terpisah dengan anak yang baru dilahirkannya. Membuatku menghayal lagi, bagaimana jika itu aku, apa ibuku akan melakukan hal yang sama, entahlah aku pun tak memikirkannya karena terlalu khawatir pada keadaan mereka. Orang-orang berkerumun dan ikut mengevakuasi keluarga itu. Yang membuatku tak kuasa menahan tangis saat mengetahui bahwa mereka telah kembali kepada-Nya, namun ajaibnya sang bayi masih bertahan hidup, mungkin karena dekapan dan perlindungan ibunya. Pihak berwenang pun segera bertindak. Sepertinya bayi itu dititipkan di panti asuhan, karena kudengar itu yang orang-orang katakan. Aku ikut ke panti asuhan tempat bayi itu dibawa. Bayi perempuan itu menangis sepanjang malam, mungkin ia rindu akan ayah dan ibunya. Terkejutlah aku saat esok harinya sepasang suami istri datang ke panti itu mencari anak untuk diadopsi dan mereka adalah orang tua angkatku saat ini. Mereka lalu pergi membawa bayi itu. Aku yang terlalu bingung akan semua ini pun berlari mengikuti mereka. Anehnya jalan yang kulewati menjadi semakin panjang dan kabur, tak jelas ujungnya. Kukencangkan lariku dan
“Uh!”, ucapku ketika tersandung batu kecil di taman samping rumahku, mungkin batu yang kulempar beberapa hari lalu.
 “Hah? Aku sudah kembali?”, tanyaku sambil terperangah heran.
Segera teringat olehku, berapa lama aku pergi, tiga hari, lima hari atau bahkan lebih dari seminggu. Bagaimana sekolahku, bagaimana orang tuaku, pasti mereka khawatir. Segera aku berlari ke dapur, melihat ibuku.
“Eh, Intan udah pulang?”, tanyanya.
“Heh? Bu, ini jam berapa? Tanggal berapa? Bulan apa?”, kuserbu ibuku dengan pertanyaan mengenai waktu yang agak aneh itu.
“Gimana sih sayang? Sekarang kan tanggal satu Mei. Kamu baru pulang sekolah kan, berarti sekarang jam tiga sore”, jawab ibuku sambil tersenyum kecil.
Aku terperangah mendengar jawaban ibuku, terlalu terkejut karena aku berpindah tempat selama beberapa hari tapi kembali disaat yang sama dengan waktu aku pergi.
“Apakah ini hanya mimpi? Tidak, aku sangat yakin itu bukan mimpi” ucapku dalam hati.
Aku segera berlari ke kamarku, teringat buku album keluarga kandungku yang merupakan satu-satunya peninggalan mereka. Betapa terkejutnya aku mengetahui foto yang sama persis dengan yang kulihat sebelumnya, rasanya aku mengalami déjà vu. Foto itu meyakinkanku bahwa aku tadi kembali ke masa lalu, masa dimana aku baru menghirup udara. Betapa kagumnya aku mengetahui besarnya kasih sayang orang tua kandungku. Aku berjanji akan menyayangi orang tua angkatku dan selalu mendo’akan orang tua kandungku yang berkorban nyawa untuk diriku.
***TAMAT**

0 comments:

Post a Comment

 
;