Seperti
hari sebelumnya, hari ini aku pergi ke tempat itu lagi, taman disamping rumahku
setelah taruh tas di atas tempat tidur, tanpa ganti baju, aku tidur diatas
rumput Inggris yang tumbuh subur dan terasa senyaman ranjang ku sambil usil
melempar kerikil. Kupandang langit, imajinasiku berjalan lagi setelah kemarin
kulihat awan bertuliskan Allah dan berbentuk wajah sahabatku, hari ini kuharap
aku melihat hal unik lain. Tak terasa bayangan itu muncul lagi, wajah orang tuaku,
membayangkan mereka terlalu sulit bagiku. Terutama ibuku yang mungkin sekarang
melihatku dari tempat yang sangat jauh.
“Ibumu sekarang jadi bintang yang paling
terang.”, setidaknya itulah kata-kata penghibur dari sahabatku,Tiara.
Kuperhatikan terus langit itu, betapa
bahagianya aku saat memandang wajah awan seperti ibuku. Ehm, aku merasa itu
sangat jelas, mungkin saja itu hanya halusinasi tapi halusinasi itu membuatku
terlalu bahagia. Aku merasakan ada
sesuatu yang dingin di pipiku. Oh, tak terasa itu kelenjar air mataku yang bekerja
lagi.
Ada
satu hal yang begitu menarik bagiku, satu awan yang berbentuk lingkaran yang
didalamnya ada lingkaran bagai poros yang semakin membesar dan membesar. Aku
merasa masuk kedalamnya, dalam, dan semakin dalam. Rumput yang tumbuh subur
yang sebelumnya kugenggam erat makin lama makin tak terasa lagi, sampai aku
tiba di suatu tempat yang tak kukenal sebelumnya, rumah yang terlalu asing
bagiku. Kuperhatikan sekelilingku, ada satu foto yang kurasa begitu menarik,
kuperhatikan wajah-wajah dalam foto itu, satu wajah yang begitu cantik
menggugah satu pertanyaan dalam hatiku.
“ Rasanya aku kenal gadis ini,”
kuraba hidung dan pipi ku
“Wajahnya mirip denganku. Ehm,
jangan-jangan..”, kuurungkan niat untuk menebak gadis itu, takut kecewa nantinya.
Tiba tiba kudengar langkah dari
sisi ruangan lain, suara seorang perempuan dan laki-laki yang tengah bercanda sambil
menyantap kue. Dua orang yang kurasa serasi untuk jadi pasangan dan nampaknya
mereka memanglah pasangan suami istri. Saat kulihat perut sang wanita yang
besar sepertinya ia hamil tua dan ternyata ialah gadis dalam foto tadi. Aku
berjalan mendekat lalu kuucapkan salam, tak kudengar jawaban satupun dari
mereka, aku mencoba menepuk pundak si lelaki.
“Aneh, tanganku menembus
tubuhnya”, kucoba memangil mereka lagi
tapi suaraku bagai angin yang sepintas lalu.
“Aneh,
dimana aku sebenarnya?”, hanya kalimat itu yang terbersit dalam benakku.
Jeritan si wanita tiba-tiba mengacaukan suasana kegembiraan mereka. Perutnya seperti
berkontraksi. Kuikuti perginya mereka, hingga tiba di suatu rumah sakit
bersalin, ternyata memang saatnya ia melahirkan. Beberapa jam sang suami
menunggu, kegelisahan tampak jelas diraut mukanya. Dokter pun keluar, dan
kulihat ekspresi pria itu sekejap berubah bagai rasa syukur yang begitu besar.
Kuikuti dia masuk keruangan tempat istri dan putrinya yang masih suci.
“Ehm, lucu”, ucapku melihat
bayi itu..
Keesokan harinya banyak orang
berkunjung, tak lupa buah, kue dan oleh-oleh lainnya dibawanya. Mereka semua
terlihat begitu dekat walaupun jumlah mereka tak membuat kamar itu sempit. Lalu
mereka berfoto dengan senyuman yang membahagiakan orang yang memandang. Kulihat
salah satu foto itu, foto bayi dan kedua orang tua nya.
“Ehm kelurga baru yang indah.
Andai itu aku”, gumamku tanpa sadar.
Aku yang anak tunggal dan
sekaligus anak angkat dari keluarga yang membesarkanku sekarang, terkadang
merindukan orang tua kandungku. Ditambah lagi bila orang tua angkatku
memarahiku habis-habisan karena mendapat nilai ulangan dibawah SKM. Yang
membuat makin kesal kalau orang tuaku mnyangkut pautkan nilai yang gak
bagus itu dengan seringnya aku pergi dengan temanku, padahal pergiku pun karena
hal yang penting seperti belajar kelompok. Teringat kemarahan mereka membuatku
kadang berprasangka kalau mereka tak begitu menyayangiku karena aku anak angkat
yang mereka adopsi dari panti asuhan. Walaupun aku lebih sering berfikir bahwa
orang tua kandungku yang menelantarkanku ke panti asuhan karena tak
menginginkan kehadiranku di dunia.
Kembali
ke keluarga kecil yang bahagia. Keluarga itu lalu pulang kerumah mereka. Entah
mengapa aku terus membuntuti mereka. Saat tiba di perempatan jalan dekat rumah,
tiba-tiba sebuah mobil melintas cepat tanpa memperhatikan kendaraan lain.
Kontan saja sang suami banting setir, sayangnya hal itu terjadi begitu cepat,
hingga mobil tertabrak begitu keras. Mobil terbalik dan entah bagaimana keadaan
penumpangnya. Jika mereka hidup mungkin bisa disebut suatu keajaiban Tuhan. Satu
hal yang membuatku begitu terkesan, sang ibu mendekap rapat putrinya bagai tak
mau terpisah dengan anak yang baru dilahirkannya. Membuatku menghayal lagi,
bagaimana jika itu aku, apa ibuku akan melakukan hal yang sama, entahlah aku
pun tak memikirkannya karena terlalu khawatir pada keadaan mereka. Orang-orang
berkerumun dan ikut mengevakuasi keluarga itu. Yang membuatku tak kuasa menahan
tangis saat mengetahui bahwa mereka telah kembali kepada-Nya, namun ajaibnya
sang bayi masih bertahan hidup, mungkin karena dekapan dan perlindungan ibunya.
Pihak berwenang pun segera bertindak. Sepertinya bayi itu dititipkan di panti
asuhan, karena kudengar itu yang orang-orang katakan. Aku ikut ke panti asuhan
tempat bayi itu dibawa. Bayi perempuan itu menangis sepanjang malam, mungkin ia
rindu akan ayah dan ibunya. Terkejutlah aku saat esok harinya sepasang suami
istri datang ke panti itu mencari anak untuk diadopsi dan mereka adalah orang
tua angkatku saat ini. Mereka lalu pergi membawa bayi itu. Aku yang terlalu
bingung akan semua ini pun berlari mengikuti mereka. Anehnya jalan yang kulewati
menjadi semakin panjang dan kabur, tak jelas ujungnya. Kukencangkan lariku dan
“Uh!”, ucapku ketika tersandung
batu kecil di taman samping rumahku, mungkin batu yang kulempar beberapa hari
lalu.
“Hah? Aku sudah kembali?”, tanyaku sambil
terperangah heran.
Segera teringat olehku, berapa
lama aku pergi, tiga hari, lima hari atau bahkan lebih dari seminggu. Bagaimana
sekolahku, bagaimana orang tuaku, pasti mereka khawatir. Segera aku berlari ke
dapur, melihat ibuku.
“Eh, Intan udah pulang?”,
tanyanya.
“Heh? Bu, ini jam berapa? Tanggal
berapa? Bulan apa?”, kuserbu ibuku dengan pertanyaan mengenai waktu yang agak
aneh itu.
“Gimana sih sayang? Sekarang
kan tanggal satu Mei. Kamu baru pulang sekolah kan, berarti sekarang jam tiga
sore”, jawab ibuku sambil tersenyum kecil.
Aku terperangah mendengar
jawaban ibuku, terlalu terkejut karena aku berpindah tempat selama beberapa
hari tapi kembali disaat yang sama dengan waktu aku pergi.
“Apakah ini hanya mimpi? Tidak,
aku sangat yakin itu bukan mimpi” ucapku dalam hati.
Aku
segera berlari ke kamarku, teringat buku album keluarga kandungku yang
merupakan satu-satunya peninggalan mereka. Betapa terkejutnya aku mengetahui
foto yang sama persis dengan yang kulihat sebelumnya, rasanya aku mengalami déjà
vu. Foto itu meyakinkanku bahwa aku tadi kembali ke masa lalu, masa dimana
aku baru menghirup udara. Betapa kagumnya aku mengetahui besarnya kasih sayang
orang tua kandungku. Aku berjanji akan menyayangi orang tua angkatku dan selalu
mendo’akan orang tua kandungku yang berkorban nyawa untuk diriku.
***TAMAT**






0 comments:
Post a Comment