Lima tahun Angga tidak bertemu keluarganya, karena ia harus menyelesaikan
sekolah dari beasiswa yang didapatkannya di Jepang. Ia sudah terlalu rindu pada
kedua orang tua dan adiknya yang paling ia sayangi, Anggi. Dulu mereka selalu
bermain bersama, walaupun selisih umur mereka yang cukup jauh. Angga sangat
menyayangi Anggi dan ia pun tak dapat menahan rindu ingin bertemu dengan adik
satu-satunya itu.
Akhirnya Angga tiba di bandara.
Jantungnya berdebar saat melangkahkan kakinya turun dari pesawat. Keluarganya
menyambut dengan bahagia. Kedua orang tuanya segera memeluknya. Pandangan mata
Angga langsung tertuju pada gadis kecil dengan rambut hitam terurai.
“Hai, ini pasti Anggi!”, ujar Angga dengan senyum manis memandang wajah adiknya itu. Namun Anggi hanya memandang Angga dengan simpul senyum kecil dan lesung pipi yang terlihat polos tanpa berkata sepatah kata pun. Setibanya dirumah, Anggi langsung masuk kamar dan memeluk boneka Teddy Bear besar kesayangannya. Angga tentu heran melihat hal ini, adiknya sekarang jauh berbeda dengan Anggi yang dulu, yang selalu ceria. Ia menanyakan sikap Anggi pada kedua orang tuanya. “Dua tahun yang lalu Anggi tertabrak mobil ketika ia menyeberang jalan saat pulang sekolah, lukanya sangat parah. Sejak saat itu adikmu mengalami trauma dan tidak dapat bicara.”, ungkap ibu Angga dengan berlinang air mata. Angga sangat sedih mendengar hal itu, tapi ia berusaha untuk tidak menangis, agar hati orang tuanya tetap tegar.
“Hai, ini pasti Anggi!”, ujar Angga dengan senyum manis memandang wajah adiknya itu. Namun Anggi hanya memandang Angga dengan simpul senyum kecil dan lesung pipi yang terlihat polos tanpa berkata sepatah kata pun. Setibanya dirumah, Anggi langsung masuk kamar dan memeluk boneka Teddy Bear besar kesayangannya. Angga tentu heran melihat hal ini, adiknya sekarang jauh berbeda dengan Anggi yang dulu, yang selalu ceria. Ia menanyakan sikap Anggi pada kedua orang tuanya. “Dua tahun yang lalu Anggi tertabrak mobil ketika ia menyeberang jalan saat pulang sekolah, lukanya sangat parah. Sejak saat itu adikmu mengalami trauma dan tidak dapat bicara.”, ungkap ibu Angga dengan berlinang air mata. Angga sangat sedih mendengar hal itu, tapi ia berusaha untuk tidak menangis, agar hati orang tuanya tetap tegar.
Angga selalu berusaha menghibur
dan mengajak Anggi bicara. Namun Anggi selalu diam, memandang, dan melempar
senyum pada Angga, sepertinya ia kagum pada kakaknya itu. Setiap pagi Angga
selalu mengajak Anggi jalan-jalan. Suatu pagi mereka berjalan-jalan ke taman
dan bermain bola. Karena terlalu semangat Anggi melempar bola dengan kerasnya
hingga bola tersebut jatuh ke jalan. Angga segera mengambilnya, ia tak
menyadari ada mobil yang melaju dibelakangnya. Melihat hal itu dengan spontan
Anggi berteriak, “Kak Angga, ada mobil!”. Angga yang mendengar suara adiknya
segera menghindari mobil dan menghampiri adiknya. “Anggi kamu bicara?” tanya
Angga. “Iya!”,kata Anggi sambil mengangguk dan tersenyum. Angga menangis bahagia lalu
memeluk adiknya sudah kembali seperti
dulu.(fdillars)






0 comments:
Post a Comment